Perang Badar ( III )

Diposting oleh Imam Akhmad on Sabtu, 05 Maret 2011


Mengingat bahwa gembong-gembong Quraisy juga ikut serta dalam angkatan perang ini, beberapa orang dari kalangan intelektual Quraisy merasa kuatir, kalau-kalau banyak dari mereka itu yang akan terbunuh, sehingga Mekkah sendiri nanti akan kehilangan arti.
Kendatipun demikian mereka masih takut kepada Abu Jahal yang begitu keras, juga mereka takut dituduh pengecut dan penakut. Tiba-tiba tampil ‘Utba bin Rabi’a ke hadapan mereka sambil berkata, “Saudara-saudara kaum Quraisy, apa yang tuan-tuan lakukan hendak memerangi Muhammad dan kawan-kawannya itu, sebenarnya tak ada gunanya.
Kalau dia sampai binasa karena tuan-tuan, masih ada orang lain dari kalangan tuan-tuan sendiri yang akan melihat, bahwa yang terbunuh itu adalah saudara sepupunya, dari pihak bapak atau pihak ibu, atau siapa saja dari keluarganya. Kembali sajalah dan biarkan Muhammad dengan teman-temannya itu.
Kalau dia binasa karena pihak lain, mungkin itulah yang tuan-tuan kehendaki. Tetapi kalau bukan itu yang terjadi, kita tidak perlu melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak kita inginkan.”

Mendengar kata-kata ‘Utba, Abu Jahal naik darah. Ia segera memanggil ‘Amir bin’l-Hadzrami dengan mengatakan, “Temanmu ini ingin supaya orang pulang. Kamu sudah melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang harus dituntut balas. Sekarang, tuntutlah pembunuhan terhadap saudaramu Amr bin’l-Hadzrami yang tewas ditangan Abdullah bin Jahsy!”

Amir segera bangkit dan berteriak, “Wahai saudaraku! Tak ada jalan lain, mesti perang!”
Dengan dipercepatnya pertempuran itu Aswad bin ‘Abd’l-Asad keluar dari barisan Quraisy langsung menyerbu ke tengah-tengah barisan Muslimin dengan maksud hendak menghancurkan kolam air yang sudah selesai dibuat. Tetapi ketika itu juga Hamzah bin Abd’l-Mutthalib segera menyambutnya dengan satu pukulan yang mengenai kakinya, sehingga ia tersungkur dengan kaki berlumuran darah. Sekali lagi Hamzah memberikan pukulan, sehingga ia tewas di belakang kolam itu. Buat mata pedang memang tak ada yang tampak lebih tajam daripada darah. Juga tak ada sesuatu yang lebih keras membakar semangat perang dan pertempuran dalam jiwa manusia daripada melihat orang yang mati di tangan musuh sedang teman-temannya berdiri menyaksikan.
Begitu melihat Aswad jatuh, maka tampillah ‘Utba bin Rabi’a didampingi oleh Syaiba saudaranya dan Walid bin ‘Utba anaknya, sambil menyerukan mengajak duel. Seruannya itu disambut oleh pemuda-pemuda dari Madinah. Tetapi setelah melihat pemuda-pemuda Madinah ini, ia berkata, “Kami tidak memerlukan kalian! Yang kami inginkan ialah orang-orang Quraisy yang telah menjadi pengikut Muhammad!”

Lalu dari mereka memanggil-manggil, “Hai Muhammad! Suruh mereka yang berwibawa dari golongan Quraisy itu tampil!”
Ketika itu juga yang tampil menghadapi mereka adalah Hamzah bin Abd’l-Mutthalib, Ali bin Abi Thalib dan ‘Ubaida bin’l-Harith. Hamzah tidak lagi memberi kesempatan kepada Syaiba, juga Ali tidak memberi kesempatan kepada Walid, keduanya langsung menebas leher musuh mereka itu hingga tewas. Lalu keduanya segera membantu ‘Ubaida yang kini sedang diterkam oleh ‘Utba.
Setelah Quraisy melihat kenyataan ini mereka semua maju menyerbu. Pada pagi Jum’at 17 Ramadhan itulah kedua pasukan itu berhadap-hadapan muka. Sekarang Rasulullah sendiri yang tampil memimpin kaum Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika beliau melihat pasukan Quraisy begitu besar, sedang pasukan Muslimin sedikit sekali, selain itu perlengkapan yang sangat minim dibanding dengan perlengkapan Quraisy, beliau ia kembali ke kemah ditemani oleh Abu Bakar. Sungguh Rasulullah cemas pada peristiwa yang akan terjadi hari itu, sungguh pilu hati beliau melihat nasib yang akan menimpa Islam sekiranya Muslimin tidak sampai mendapat kemenangan.

Rasulullah kini menghadapkan diri kepada Allah dengan segenap jiwanya, beliau membisikkan kegelisahannya kepada Allah dan menagih apa yang telah Allah janjikan kepadanya Rasul-Nya berupa pertolongan dan kemenangan. Begitu dalam ia hanyut dalam doa, dalam permohonan, sambil berkata:

“Ya Allah. Sekarang kaum Quraisy telah datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu juga yang telah Kau-janjikan kepadaku. Ya Allah, jika sekarang ini pasukan Muslimin binasa, tidak ada lagi orang yang menyembah-Mu”.

Sementara Rasulullah masih hanyut dalam doa kepada Allah, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakar lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahunya, sambil ia berkata, “Wahai Rasulullah, dengan doamu itu Allah akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu.”
Tetapi Rasulullah makin terbawa dalam tawajjuh kepada Allah. Dengan penuh khusyu’ dan kesungguhan hati beliau terus memanjatkan doa, memohonkan isyarat dan pertolongan Allah dalam menghadapi peristiwa yang oleh kaum Muslimin sama sekali tidak diharapkan, untuk itu tidak pula mereka punya persiapan. Hingga Rasulullah pun terangguk dalam keadaan mengantuk. Dalam pada itu tampak oleh beliau pertolongan Allah itu benar adanya. Ia sadar kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira.

Sekarang Rasulullah keluar menemui para sahabat, lalu beliau bersabda, “Demi Allah. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga.”
Jiwa Rasulullah yang telah diberikan oleh Allah begitu kuat melampaui segala kekuatan, telah tertanam pula dengan ajarannya ke dalam jiwa orang-orang beriman. Kekuatan orang-orang yang beriman itu sudah melampaui semangat mereka sendiri, sehingga setiap orang dari mereka sama dengan dua orang, bahkan sama dengan sepuluh orang. Allah pun menurunkan firman-Nya,
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang iman itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang tabah diantara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang tabah diantara kalian, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepada kalian dan telah mengetahui bahwa ada kelemahan pada kalian. Maka jika ada diantara kalian seratus orang yang tabah, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika diantara kalian ada seribu orang yang tabah, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seijin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. Q:S 8:65-66
Keadaan Muslimin ternyata bertambah kuat setelah Rasulullah membangkitkan semangat mereka, turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh.

Rasulullah menyerukan kepada mereka, bahwa surga bagi mereka yang telah teruji baik dan langsung terjun ke tengah-tengah musuh. Dalam hal ini kaum Muslimin mengarahkan perhatiannya pada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Mereka hendak dikikis habis sebagai balasan yang seimbang tatkala mereka disiksa di Mekkah dulu, dirintangi memasuki Masjid Suci dan berjuang untuk Allah. Bilal melihat Umayya bin Khalaf dan anaknya, begitu juga beberapa orang Islam melihat mereka yang dikenalnya di Mekkah dulu. Umayya ini adalah orang yang pernah menyiksa Bilal dulu, ketika ia dibawanya ketengah-tengah padang pasir yang paling panas di Mekkah. Ditelentangkannya ia di tempat itu lalu ditindihkannya batu besar di dadanya, dengan maksud supaya ia meninggalkan Islam. Tetapi Bilal hanya berkata, “ Ahad, Ahad. Yang Satu, Yang Satu.”
Ketika dilihatnya Umayya, Bilal berkata, “Umayya, moyang kafir. Takkan selamat aku, kalau kau lolos!”

Beberapa orang dari kalangan Muslimin mengelilingi Umayya dengan tujuan jangan sampai ia terbunuh dan akan dibawanya sebagai tawanan. Tetapi Bilal di tengah-tengah orang banyak itu berteriak sekeras-kerasnya, “Demi Allah! Wahai Umayya bin Khalaf kepala kafir. Aku takkan selamat jika kau lolos!”.

Orang banyak berkumpul. Tetapi Bilal tak dapat diredakan lagi, dan Umayya dibunuhnya. Ketika itu Mu’adh bin ‘Amr bin Jamuh juga dapat menewaskan Abu Jahal bin Hisyam. Kemudian Hamzah, Ali dan pejuang-pejuang Islam yang lain menyerbu ke tengah-tengah pertempuran sengit itu. Mereka sudah lupa akan dirinya masing-masing dan lupa pula akan jumlah kawan-kawannya yang hanya sedikit berhadapan dengan musuh yang begitu besar.

Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara. Kepala-kepala ketika itu sudah lepas berjatuhan dari tubuh Quraisy. Berkat iman yang teguh keadaan Muslimin bertambah kuat juga. Dengan gembira mereka berseru, “Ahad! Ahad!”. Di hadapan mereka kini terbuka tabir ruang dan waktu, sebagai bantuan Allah kepada mereka dengan para malaikat yang memberikan berita gembira, yang membuat iman mereka bertambah teguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkat pedang dan mengayunkannya ke leher musuh, seolah-olah tangan mereka digerakkan dengan kekuatan Allah.

Di tengah-tengah medan pertempuran yang sedang sibuk dikunjungi malaikat maut memunguti leher orang-orang kafir itu, Rasulullah berdiri, diambilnya segenggam pasir, lalu dihadapkannya kepada pasukan Quraisy. “Celakalah wajah-wajah mereka itu!” kata Rasulullah sambil menaburkan pasir itu kearah mereka.

Para sahabat lalu diberi komando, “Serbu!”

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar